Minggu, Mei 08, 2011

Di balik kebahagiaan ada pengorbanan

Jangan salahkan diri sendiri kalau hingga saat ini, kamu masih mencari yang namanya “Kebahagiaan”.
Sampai ke ujung pelosok dan dunia sekalipun kita tak akan mendapatkan kebahagiaan sejati bila tak ada pengorbanan sedikitpun yang kita berikan kepada diri kita.
Seorang teman menanyakan kepada saya, kapan kamu menikah, ini adalah pertanyaan yang sulit untuk dijawab (hanya untuk saat sekarang) karena bukan itu kebahagiaan yang saya cari. Justru yang ingin saya dengar adalah apakah pasangan saya sudah siap lahir dan batin untuk menikah.
Siap atau tidak siap ternyata jawaban yang sangat sulit. Saudara saya berkata “mau tidak mau kamu harus siap” karena di balik pernyataan “mau” banyak hal yang dikorbankan.
“Apakah kamu pintar masak?”, tanya Pin kepadaku. Sejenak ku terdiam dan sambil tersenyum sipu aku menjawabnya, ”aku bisa memasak tetapi tidak begitu pintar layaknya chef terkenal”.
“Apakah kamu suka jajan/makan di restoran (atau makan jajanan menu di luar rumah)?”,tanyanya lagi, dengan cepat aku menjawab “kadang-kadang”. Dalam pikiranku sepertinya dia hendak mengetestku dengan pertanyaan simple tapi mengandung makna dibalik itu semuanya.
Apapun yang ingin diketahui akan kujawab sebisaku untuk jujur kepadanya bahwa seperti inilah diriku.
Aku langsung beranjak dari tempat dudukku menuju pantri dan mengambil segelas air karena seketika terasa kering tenggorokan ini. Apa yang ingin banyak diketahuinya. Tuhan tolong aku karena aku tak mau kehilangan dirinya bila ada kekurangan pada diriku yang membuatnya akan jauh dariku.
Aku kembali lagi ke ruang depan dan baru saja duduk, tiba-tiba katanya, “kamu kelihatan gugup sekali, ada apa?”
Aku tak bisa berkata apa-apa, memang benar aku tampak gugup dan aku tak bisa membohongi diriku kalau aku sangat gugup saat ini. “Bisakah aku meminta segelas air putih? Aku haus sekali, pintanya padaku.
Oh, dengan senang hati sekali aku mengambil segelas air untuknya dan sekarang giliranku untuk bertanya kepadanya, kamu benar-benar haus atau gugup? Jawabnya: aku haus aku tidak kelihatan gugup.
“Sebenarnya apa yang ingin kamu ketahui dariku dan mengapa?”, tanyaku
Ia menjawab : “aku hanya ingin menjalin hubungan serius denganmu dan aku ingin tahu banyak tentangmu”.
Aku berkata padanya, tak usah bertanya lagi biar aku saja yang menjelaskannya.
ASI is my name. Jika kamu benar-benar ingin serius denganku cintai aku apa adanya, tak usah banyak tanya lagi karena dengan berjalannya waktu kamu juga akan tahu tentang diriku, sudah 3 tahun kita menjalani hubungan dan baru saat ini kamu menyatakan keseriusan hubungan ini artinya kamu sudah seharusnya tahu tentang sifatku. Apa yang ingin kamu ketahui? Masa laluku atau masa depan kita? Sebenarnya pertanyaan yang cocok buatmu adalah apakah kamu sudah siap untuk serius? Karena tentunya dibalik keseriusan ini yang kita cari adalah kebahagiaan. Dan tidak ada kebahagiaan diperoleh secara gratisan, semuanya penuh pengorbanan dalam proses kehidupan yang kita jalani. Sekali lagi, apa kamu sudah siap?

Rabu, April 06, 2011

Tanda Tak Mampu "KDL=Kasian Deh Loe"

Mereka kok masih ngomongin orang, ternyata mereka masih mengungkit masa lalu orang, mereka masih berpikiran negatif, mereka masih membahas kejelekan dan kelemahan seseorang di masa lalu. Itu artinya mereka masih belum beruntung, mereka masih primitif, mereka belum sukses, mereka iri hati tanda tak mampu dan hanya satu kata buat mereka “KASIAN”.

Kalau bergaul dengan orang yang positif thinking, rendah hati, tidak mengungkit kejelekan masa lalu seseorang, friendly dan suka mengalah... ini dia , mereka masuk dalam kategori orang sukses yang baik. Karena tidak melihat masa lalu tetapi melihat masa depan.
Dari dulu sampai sekarang coba kita berkaca pada diri kita sendiri, siklus hidup kita masuk dalam grafik yang mana?

Coba lihatlah, kamu masuk dalam grafik I, II atau III? I=Meningkat, II=stagnant atau kamu baru sadar bahwa sikapmu, karirmu dan pengetahuanmu sama dengan III=tidak berubah positif setiap tahunnya malahan menurun? Silahkan menjawab dalam hati kecilmu dan introspeksi diri.

Selasa, Maret 29, 2011

27 Maret
Adalah hari yang bersejarah.
Aku tidak dilema, aku tidak merasa ketakutan, aku juga tidak merasa aneh hanya saja aku bertanya apakah ini bagian dari Mujizat???.
Aku tak menyangka bahwa malam itu adalah jawaban dari pertanyaan yang selalu kutanya dalam hati kecil ini sebelum aku tertidur dan setelah aku terbangun.
Hidup dan apa yang kualami ku anggap mengalir apa adanya karena apapun itu “pasti ada jawabannya bila ada pertanyaan”. Dan jawaban untuk kehidpunku saat ini mulai terbuka lebar, masing2 pertanyaan dalam hidup ini, terjawab satu persatu, meskipun butuh waktu lama untuk terwujud dan aku bersyukur sekali karena salah satu pertanyaan dari impianku terjawab sudah. Berharap ini adalah “satu telur” yang sudah terpecahkan dan semoga ada masih banyak lagi telur2 lain yang juga akan memecahkan kebahagiaan dalam hidupku kelak.
Aku ingin mencintaimu dari kekuranganmu dan berharap kekurangan itu akan menjadi kebahagiaan yang tertunda dan besar harapanku semuanya akan berubah ke arah yang baik dan berakhir dengan bahagia.
Aku yakin dalam doa setiap manusia yang menyerahkan segala jiwa dan raganya, berpasrah pada yang Empunya hidup ini, akan dibukakan jalan yang lurus dan terang kebahagiaan, berharap dan terus berharap Aku dan Dia tetap saling mengerti kekurangan masing-masing demi keharmonisan hubungan ini