Tidak seorang pun di dunia ini diwajibkan bekerja. Lho? Ya, demikian dikatakan Bob Black dalam sebuah karangannya yang berjudul ''The Abolition of Work''. Dari judulnya saja -- yang kurang lebih berarti penghapusan kerja -- mungkin orang berharap bahwa dalam tulisan ini, paling tidak, akan ditemukan uraian bahwa manusia itu sebenarnya tidak perlu melakukan aktivitas yang disebut kerja. Mengapa?
-------------
MENURUT Bob Black, kerja merupakan sumber dari segala kesengsaraan di dunia ini, dan bahwa hampir semua penderitaan yang dialami manusia berasal dari "kerja" atau dari kehidupan yang dirancang untuk bekerja.
Selanjutnya dikatakan, dengan bekerja sebetulnya kebebasan kita sudah terpasung karena menguras energi yang seringkali disumbangkan dengan setengah hati, serta diikat oleh hirarki, disiplin, dan pengawasan yang tidak jarang pula harus diterima secara paksarela. Dapat dibayangkan lalu dampaknya bagi jiwa dan raga manusia jika harus bekerja 40 jam seminggu.
Dalam uraian Black, kerja didefinisikan sebagai "forced labor", karena tidak jarang orang bekerja karena dipaksa tanpa diberi kesempatan meraih kesenangan. Secara lengkap juga disajikan data kecelakaan yang secara langsung maupun tidak langsung dapat memperpendek umur alias menyebabkan kematian manusia pada saat bekerja maupun dalam perjalanan menuju tempat kerja, datang dari tempat kerja, mencari pekerjaan atau bahkan saat berusaha melupakan pekerjaan itu sendiri. Maka itu, agar dapat keluar dari segala penderitaan yang ditimbulkan oleh "kerja", orang harus mengundurkan diri dari "bekerja". Ah, yang benar saja!
Namun, perbincangan ini terlepas dari apakah manusia wajib atau tidak wajib bekerja, tetapi untuk berkontemplasi tentang "mengapa kita bekerja". Jika suatu saat Anda bertanya kepada setiap orang yang dijumpai dengan pertanyaan "mengapa anda bekerja?", kemungkinan sebagian besar akan menjawab bahwa mereka bekerja untuk mendapatkan uang atau berkaitan dengan usaha untuk mendapatkan uang. Mengapa uang menempati posisi penting dalam hal ini? Karena dengan uang orang dapat memenuhi berbagai kebutuhan seperti keperluan dasar, menghidupi anak, istri/suami atau untuk membeli komoditas yang diinginkan.
Ditinjau dari segi ekonomi, jika seseorang bekerja untuk mendapatkan uang berarti ia memiliki daya beli, atau meminjam istilah Muhammad Syukri Saleh dari Universiti Sains Malaysia, bahwa ia mendapat kuasa beli. Dengan kuasa beli itu orang yang bersangkutan dapat memaksimalkan penggunaan uangnya dan dapat mengalokasikan uangnya untuk mencapai keadilan ekonomi dan sosial. Karena kuasa beli itu diukur dari banyaknya uang tunai yang dimiliki, umumnya makin tinggi pendapatan, makin banyak uang tunai yang dimiliki, dan makin tinggi kuasa belinya.
Sampai di sini, berarti tujuan bekerja lebih bersifat individu.
Padahal, bekerja juga penting ditinjau dari perspektif negara. Kembali dinyatakan oleh Muhamad Syukri Saleh, bahwa jika rakyat bekerja berarti jumlah pengangguran otomatis berkurang. Seperti diketahui, tingkat pengangguran yang tinggi cenderung menimbulkan masalah ekonomi maupun sosial bagi negara. Berarti jika jumlah pengangguran berkurang, masalah ekonomi dan sosial pun dapat ditekan, yang pada akhirnya akan memberi dampak positif terhadap kelancaran proses pembangunan.
Tidak Semua
Dalam konteks negara, persoalan sering sulit dan kompleks. Kenyataan juga menunjukkan, bahwa jika ditanyakan seorang siswa atau mahasiswa "kelak mengapa ia bekerja", jarang sekali didapat jawaban "untuk mengurangi pengangguran". Maka dari itu, mari keluar dari jalur lalu lintas negara, dan kembali kepada penelusuran jawaban "mengapa kita bekerja" dalam konteks individu.
Kerja adalah suatu aktivitas yang dilakukan seseorang untuk mencapai tujuan-tujuan yang ingin dipenuhinya.
Perlu dicatat bahwa tidak semua aktivitas dapat dikatakan kerja, karena berdasarkan ulasan Dr Franz Von Magnis (dalam "Anoraga", 1998), kerja adalah kegiatan yang direncanakan dan memerlukan pemikiran yang khusus sehingga tidak dapat dilakukan oleh -- maaf -- kaum binatang.
Bekerja memang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Jika ditinjau dari Ilmu Ekonomi Sumber Daya Manusia, seseorang dikatakan melakukan aktivitas yang disebut kerja jika ia melakukan suatu kegiatan dengan tujuan untuk memperoleh penghasilan. Mau tidak mau, definisi ini akan dikaitkan dengan pengertian imbalan atau pembayaran atas suatu prestasi kerja, atau dengan kata lain berkaitan dengan motif ekonomi.
Jika demikian halnya, berarti ibu rumah tangga yang bekerja keras melakukan tugas domestik, serta mereka yang melakukan kegiatan sosial tanpa memperoleh imbalan, tentu tidak dapat dikatakan bekerja.
Padahal, ada sementara orang yang bekerja bukan untuk mencari nafkah, melainkan semata-mata karena kesenangan atau salah satu jalan untuk memenuhi kepuasan egonya saja. Misalnya, bekerja baginya merupakan sarana untuk memperoleh kekuasaan serta dapat menggunakan kekuasaan itu pada orang lain.
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup sendiri, melainkan merupakan bagian dari suatu kelompok orang yang disebut dengan masyarakat. Dengan bekerja manusia dapat menyatakan eksistensinya kepada lingkungan dimana dia berada. Jika seseorang bekerja karena terdorong oleh kondisi tersebut, berarti kerja merupakan bagian yang paling mendasar dari kehidupannya karena dilakukan hanya untuk memperoleh status sosial di masyarakat.
Jika ditelusuri lebih lanjut, ada juga orang yang bekerja demi memperoleh rasa aman. Sejak lahir, orang sudah mulai membutuhkan perlindungan dan rasa aman. Kebutuhan akan rasa aman yang merupakan faktor penting dalam kehidupan manusia, dapat diperoleh dari orang tua. Namun tak seterusnya demikian. Begitu terlepas dari orang tua, orang harus memenuhi kebutuhan tersebut sendiri. Dan kebutuhan akan rasa aman dapat terpenuhi dengan jalan bekerja.
Dari pengalaman penulis selama ini, tidak pernah penulis mendapat jawaban dari mahasiswa bahwa mereka nantinya bekerja untuk melayani masyarakat, apalagi untuk mengabdi kepada bangsa dan negara. Masih jauh dari jangkauan! Paling banter jawaban mereka, tentunya selain motif ekonomi, adalah untuk mengaplikasikan ilmu yang yang diperoleh di bangku kuliah. Kedengarannya lumayan idealis.
Orientasi Motivasi
Makna kerja pada umumnya berkaitan erat dengan kebutuhan atau motivasi, demikian dinyatakan oleh Panji Anoraga dalam bukunya yang berjudul "Psikologi Kerja". Kebutuhan menyangkut segala sesuatu yang diperlukan seseorang, yang jika sudah terpenuhi akan membuat yang bersangkutan senang dan tenang. Lain halnya dengan motivasi, yang tertuju kepada suatu dorongan yang sudah terarah, sehingga memungkinkan seseorang bergerak untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Mereka yang menganggap makna kerja masih berorientasi kepada kebutuhan, misalnya untuk menafkahi anak dan istri/suami, umumnya masih berada pada tahap pengembangan diri yang rendah. Sebaliknya mereka yang taraf pengembangan dirinya sudah tinggi seringkali berorientasi kepada motivasi, misalnya agar mendapat reputasi yang tinggi di mata masyarakat.
Jadi, bekerja memang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Sekarang yang perlu direnungi kembali adalah mengajukan pertanyaan minimal bagi diri sendiri "mengapa saya bekerja". Apakah Anda bekerja semata-mata untuk mendapatkan uang, sekadar mempertahankan hidup, mencari status sosial, menjaga reputasi, mencari rasa aman, mencari kepuasan, mencari kesenangan, menerapkan ilmu pengetahuan yang dimiliki, mengurangi pengangguran, melayani masyarakat, atau mengabdi kepada bangsa dan negara.
Jika daftar itu belum dapat menjawab pertanyaan Anda, coba telusuri lagi yang berikut ini : mencapai kehidupan yang layak, memperoleh kehormatan, mempertahankan eksistensi, memberi makna kepada kehidupan, menumbuhkan harga diri, menguji kemampuan, memenuhi panggilan hidup, atau karena terpaksa.
Apapun akhirnya jawaban yang ditemukan, usahakan jangan sampai jawaban Anda mentok pada yang terakhir. Karena jika itu yang terjadi, berarti Anda melihat bekerja tak lain hanya sebagai beban hidup, dan kerja bagi Anda tidak akan pernah bernilai positif. Akibatnya, berbagai gangguan akan muncul, seperti enggan setiap kali akan berangkat kerja, selalu merasa tertekan pada saat melaksanakan tugas, produktivitas rendah, serta berpuluh-puluh gangguan klasik lainnya.
Bagaimana jika setelah dicari-cari ternyata jawabannya tetap jatuh pada yang terakhir? Berarti mulai saat ini Anda harus berusaha membuat kerja agar mempunyai nilai positif. Upaya ini penting agar Anda dapat bekerja secara profesional, apapun jenis pekerjaan yang ditekuni.
* iga manuati dewi,
dosen FE Unud
PARADIGMA KERJA PROFESIONAL
(GAGASAN JANSEN SINAMO)
* Kerja adalah rahmat:
kita harus bekerja tulus penuh syukur
* Kerja adalah amanah:
kita harus bekerja benar penuh integritas
* Kerja adalah panggilan:
kita harus bekerja tuntas penuh tanggung jawab
* Kerja adalah aktualisasi:
kita harus bekerja keras penuh semangat
* Kerja adalah ibadah:
kita harus bekerja serius penuh pengabdian
* Kerja adalah seni:
kita harus bekerja kreatif penuh sukacita
* Kerja adalah kehormatan:
kita harus bekerja unggul penuh ketekunan
* Kerja adalah pelayanan:
kita harus bekerja sempurna penuh kerendahan hati
Jumat, Januari 07, 2011
Selasa, Januari 04, 2011
PERNIKAHAN
Ketika saya memikirkan tentang suatu hal tiba-tiba saya menemukan satu tulisan, bisa dibilang ini adalah opini dari seseorang atas apa yang ditelusurinya dalam menjalin suatu hubungan sakral.Mari kita simak bersama :
Hmmm…. Manusiawi bila kita mempunyai harapan (ekspektasi), cita-cita maupun fantasi trutama ttg keindahan dan kebahagian berpasangan dlm konsep berumahtangga. namun hal ini janganlah membuat kita sulit menerima kenyataan bila ternyata pengkaryaan (creating) keputusan kita ternyata tidak sepadan dgn ekspektasi sebelumnya; terkecuali bila sebelumnya memang ada ‘ketidak-hadiran’ atau ‘keterpaksa-hadiran’ kita dlm proses creating tsb. kita harus menyadari bhw implikasi psikologis dari ‘kesalahan’ dlm ‘konsep’ berumahtangga (hidup berpasangan) yg kita pilih/miliki akan sangat menentukan pencapaian “kebahagiaan” yg diidamkan.
Kita tak bisa hanya memaknai sebuah pernikahan sebatas hanya komitmen hidup berpasangan antara 2 individu saja. lebih dari itu, sejatinya pernikahan merupakan kesadaran pilihan 2 individu utk menyepakati kesucian ‘perasaan bersama’ yg diyakini sbg ‘jalan’ dari tuhan utk membahagiakan hidup bersama. intinya… bila kita meragukan bahkan menggugat pernikahan, sebenarnya kita tak ubahnya sedang menggugat ‘kesadaran diri’, ‘perasaan bersama’ dgn pasangan hidup terpilih, terlebih lagi menggugat ‘kesucian’ jalan tuhan dan keyakinan atas kebahagian meniti di jalan-Nya.
Bila pernikahan kita sedang dlm masalah, sebaiknya kembali merujuk pd orientasi semula, ikhlaskan kembali pd ‘kejujuran’ keyakinan semula bhw kita merasa ‘terpilih’ utk pasangan kita dan begitupun sebaliknya dia ‘terpilih’ utk kita; sama-sama terpilih utk membawa ‘amanah’Nya yg semula disanggupi utk mengembannya bersama, keyakinan bhw kebahagiaan maupun kedukaan meniti jalanNya adalah bagian dari menjemput hikmah pembelajaran guna memperbaiki kesalahan2 berikutnya.
Sejatinya, tak ada yg benar-benar merasa siap dan sanggup mengemban sebegitu mulia dan agung tanggungjawab dlm ikatan pernikahan bila tanpa mengingat pahala dan kebajikan yg dijanjikan-Nya sebagai tebusannya. sayangnya, kita selalu berpikir di sebagian sisi saja, lebih menganggap pernikahan sama halnya membeli kebebasan diri dlm berekspresi, menyatakan pendapat, berpikir, berfantasi, berkarya, dst - hingga melupakan bhw pernikahan adalah ‘menyatukan’ dunia, pendapat, pemikiran, kebiasaan, dst. kepincangan perspektif inilah yg justru menyeret kita mempersiapkan diri menyambut 1001 masalah beserta faktor pencetus dan alternatif pemecahannya, hingga lupa tentang bagaimana memperhatikan dan mengurusi perasaan, emosi dan juga harga-diri pasangan.
hmmm.... "Tak ada yg lebih membahagiakan drpd memiliki seseorang yg bersedia mendampingi di sisa perjalanan hidup kita. sepatutnya teruslah mencari dan belajar bagaimana mencintai, mencukupkan dan memenuhkan kebahagiaan bersama pasangan, sembari tak henti meminta petunjuk dan kerelaan Tuhan agar selamat meniti jalan-Nya".
Hmmm…. Manusiawi bila kita mempunyai harapan (ekspektasi), cita-cita maupun fantasi trutama ttg keindahan dan kebahagian berpasangan dlm konsep berumahtangga. namun hal ini janganlah membuat kita sulit menerima kenyataan bila ternyata pengkaryaan (creating) keputusan kita ternyata tidak sepadan dgn ekspektasi sebelumnya; terkecuali bila sebelumnya memang ada ‘ketidak-hadiran’ atau ‘keterpaksa-hadiran’ kita dlm proses creating tsb. kita harus menyadari bhw implikasi psikologis dari ‘kesalahan’ dlm ‘konsep’ berumahtangga (hidup berpasangan) yg kita pilih/miliki akan sangat menentukan pencapaian “kebahagiaan” yg diidamkan.
Kita tak bisa hanya memaknai sebuah pernikahan sebatas hanya komitmen hidup berpasangan antara 2 individu saja. lebih dari itu, sejatinya pernikahan merupakan kesadaran pilihan 2 individu utk menyepakati kesucian ‘perasaan bersama’ yg diyakini sbg ‘jalan’ dari tuhan utk membahagiakan hidup bersama. intinya… bila kita meragukan bahkan menggugat pernikahan, sebenarnya kita tak ubahnya sedang menggugat ‘kesadaran diri’, ‘perasaan bersama’ dgn pasangan hidup terpilih, terlebih lagi menggugat ‘kesucian’ jalan tuhan dan keyakinan atas kebahagian meniti di jalan-Nya.
Bila pernikahan kita sedang dlm masalah, sebaiknya kembali merujuk pd orientasi semula, ikhlaskan kembali pd ‘kejujuran’ keyakinan semula bhw kita merasa ‘terpilih’ utk pasangan kita dan begitupun sebaliknya dia ‘terpilih’ utk kita; sama-sama terpilih utk membawa ‘amanah’Nya yg semula disanggupi utk mengembannya bersama, keyakinan bhw kebahagiaan maupun kedukaan meniti jalanNya adalah bagian dari menjemput hikmah pembelajaran guna memperbaiki kesalahan2 berikutnya.
Sejatinya, tak ada yg benar-benar merasa siap dan sanggup mengemban sebegitu mulia dan agung tanggungjawab dlm ikatan pernikahan bila tanpa mengingat pahala dan kebajikan yg dijanjikan-Nya sebagai tebusannya. sayangnya, kita selalu berpikir di sebagian sisi saja, lebih menganggap pernikahan sama halnya membeli kebebasan diri dlm berekspresi, menyatakan pendapat, berpikir, berfantasi, berkarya, dst - hingga melupakan bhw pernikahan adalah ‘menyatukan’ dunia, pendapat, pemikiran, kebiasaan, dst. kepincangan perspektif inilah yg justru menyeret kita mempersiapkan diri menyambut 1001 masalah beserta faktor pencetus dan alternatif pemecahannya, hingga lupa tentang bagaimana memperhatikan dan mengurusi perasaan, emosi dan juga harga-diri pasangan.
hmmm.... "Tak ada yg lebih membahagiakan drpd memiliki seseorang yg bersedia mendampingi di sisa perjalanan hidup kita. sepatutnya teruslah mencari dan belajar bagaimana mencintai, mencukupkan dan memenuhkan kebahagiaan bersama pasangan, sembari tak henti meminta petunjuk dan kerelaan Tuhan agar selamat meniti jalan-Nya".
Kamis, Desember 30, 2010
Akhir Tahun
Pagi ini sebelum berangkat ke tempat kerja, tiba-tiba tetangga sebelah rumah ribut lagi, suara teriakan suami dan istri sambil terdengar bunyi lemparan barang-barang pecah belah membuat beberapa anggota rumah lain tersentak gosip sana-sini.
Tak kenal usia pasangan suami istri yang sudah punya anak dan cucu ini sering sekali bertengkar. Belum lagi penjaga rumahku yang sebelumnya juga pernah mengalami pertengkaran rumah tangga karena keadaan ekonomi dan perselingkuhan. Dan saya merasa kalau masih ada lagi pertengkaran-pertengkaran masalah keluarga yang terselubung yang lebih dahsyat lagi namun tidak terekspos dan tidak tampak mata.
Dalam hati kecilku ini, aku sangatttttttttttttttttttt bersyukur karena aku mempunyai orang tua dan keluarga inti yang harmonis sekalipun ada ribut-ribut kecil itu wajar dan lumrah dalam rumah tangga. Aku adalah manusia yang sangat beruntung di dunia ini karena dikarunia orang tua yang baik hati dan sangattttttttttttttttt pengertian juga kuat beribadah yang mengajarkan kepadaku menerima segala kekurangan dan selalu rendah hati dan pasrah kepada yang Kuasa bila menghadapi semua dilema hidup.
Kita tidak pernah tahu kapan kebahagiaan datang dan duka itu ada. Kitapun tak bisa memprediksi kapan kita bisa tertawa dan tangisan akan datang menghampiri, namun itu semua mengajari kepada kita untuk melihat terus ke depan dan menjadikan masa lalu sebagai motivasi yang positif untuk melangkah maju dan jangan pernah mundur.
Oh Tuhan akankah rasa cinta, kasih dan sayang yang ada saat ini akan berubah drastis bila waktu terus berjalan sampai dengan puluhan tahun yang akan datang. Karena setiap perubahan emosi yang sejalan dengan waktu yang terus berputar menghantar kita ke pelabuhan kebahagian sejati ataukah hanya sesaat.
Ada pertemuan adapula perpisahan, kadang waktu begitu singkat ada juga waktu yang sangat lama untuk dilewati bersama. Setiap perjumpaan dengan orang-orang disekelilingku mengajarkan kepadaku untuk “berbuatlah baik kepada mereka di saat sekarang” karena kita tak pernah tahu kapan waktu akan memisahkan kita.
Renunganku di akhir tahun ini sekedar memberikanku pengharapan yang besar bahwa masih ada orang baik di dunia ini di tahun-tahun ke depannya.SEMOGA.
Tak kenal usia pasangan suami istri yang sudah punya anak dan cucu ini sering sekali bertengkar. Belum lagi penjaga rumahku yang sebelumnya juga pernah mengalami pertengkaran rumah tangga karena keadaan ekonomi dan perselingkuhan. Dan saya merasa kalau masih ada lagi pertengkaran-pertengkaran masalah keluarga yang terselubung yang lebih dahsyat lagi namun tidak terekspos dan tidak tampak mata.
Dalam hati kecilku ini, aku sangatttttttttttttttttttt bersyukur karena aku mempunyai orang tua dan keluarga inti yang harmonis sekalipun ada ribut-ribut kecil itu wajar dan lumrah dalam rumah tangga. Aku adalah manusia yang sangat beruntung di dunia ini karena dikarunia orang tua yang baik hati dan sangattttttttttttttttt pengertian juga kuat beribadah yang mengajarkan kepadaku menerima segala kekurangan dan selalu rendah hati dan pasrah kepada yang Kuasa bila menghadapi semua dilema hidup.
Kita tidak pernah tahu kapan kebahagiaan datang dan duka itu ada. Kitapun tak bisa memprediksi kapan kita bisa tertawa dan tangisan akan datang menghampiri, namun itu semua mengajari kepada kita untuk melihat terus ke depan dan menjadikan masa lalu sebagai motivasi yang positif untuk melangkah maju dan jangan pernah mundur.
Oh Tuhan akankah rasa cinta, kasih dan sayang yang ada saat ini akan berubah drastis bila waktu terus berjalan sampai dengan puluhan tahun yang akan datang. Karena setiap perubahan emosi yang sejalan dengan waktu yang terus berputar menghantar kita ke pelabuhan kebahagian sejati ataukah hanya sesaat.
Ada pertemuan adapula perpisahan, kadang waktu begitu singkat ada juga waktu yang sangat lama untuk dilewati bersama. Setiap perjumpaan dengan orang-orang disekelilingku mengajarkan kepadaku untuk “berbuatlah baik kepada mereka di saat sekarang” karena kita tak pernah tahu kapan waktu akan memisahkan kita.
Renunganku di akhir tahun ini sekedar memberikanku pengharapan yang besar bahwa masih ada orang baik di dunia ini di tahun-tahun ke depannya.SEMOGA.
Langganan:
Postingan (Atom)