Selasa, Januari 04, 2011

PERNIKAHAN

Ketika saya memikirkan tentang suatu hal tiba-tiba saya menemukan satu tulisan, bisa dibilang ini adalah opini dari seseorang atas apa yang ditelusurinya dalam menjalin suatu hubungan sakral.Mari kita simak bersama :

Hmmm…. Manusiawi bila kita mempunyai harapan (ekspektasi), cita-cita maupun fantasi trutama ttg keindahan dan kebahagian berpasangan dlm konsep berumahtangga. namun hal ini janganlah membuat kita sulit menerima kenyataan bila ternyata pengkaryaan (creating) keputusan kita ternyata tidak sepadan dgn ekspektasi sebelumnya; terkecuali bila sebelumnya memang ada ‘ketidak-hadiran’ atau ‘keterpaksa-hadiran’ kita dlm proses creating tsb. kita harus menyadari bhw implikasi psikologis dari ‘kesalahan’ dlm ‘konsep’ berumahtangga (hidup berpasangan) yg kita pilih/miliki akan sangat menentukan pencapaian “kebahagiaan” yg diidamkan.

Kita tak bisa hanya memaknai sebuah pernikahan sebatas hanya komitmen hidup berpasangan antara 2 individu saja. lebih dari itu, sejatinya pernikahan merupakan kesadaran pilihan 2 individu utk menyepakati kesucian ‘perasaan bersama’ yg diyakini sbg ‘jalan’ dari tuhan utk membahagiakan hidup bersama. intinya… bila kita meragukan bahkan menggugat pernikahan, sebenarnya kita tak ubahnya sedang menggugat ‘kesadaran diri’, ‘perasaan bersama’ dgn pasangan hidup terpilih, terlebih lagi menggugat ‘kesucian’ jalan tuhan dan keyakinan atas kebahagian meniti di jalan-Nya.

Bila pernikahan kita sedang dlm masalah, sebaiknya kembali merujuk pd orientasi semula, ikhlaskan kembali pd ‘kejujuran’ keyakinan semula bhw kita merasa ‘terpilih’ utk pasangan kita dan begitupun sebaliknya dia ‘terpilih’ utk kita; sama-sama terpilih utk membawa ‘amanah’Nya yg semula disanggupi utk mengembannya bersama, keyakinan bhw kebahagiaan maupun kedukaan meniti jalanNya adalah bagian dari menjemput hikmah pembelajaran guna memperbaiki kesalahan2 berikutnya.

Sejatinya, tak ada yg benar-benar merasa siap dan sanggup mengemban sebegitu mulia dan agung tanggungjawab dlm ikatan pernikahan bila tanpa mengingat pahala dan kebajikan yg dijanjikan-Nya sebagai tebusannya. sayangnya, kita selalu berpikir di sebagian sisi saja, lebih menganggap pernikahan sama halnya membeli kebebasan diri dlm berekspresi, menyatakan pendapat, berpikir, berfantasi, berkarya, dst - hingga melupakan bhw pernikahan adalah ‘menyatukan’ dunia, pendapat, pemikiran, kebiasaan, dst. kepincangan perspektif inilah yg justru menyeret kita mempersiapkan diri menyambut 1001 masalah beserta faktor pencetus dan alternatif pemecahannya, hingga lupa tentang bagaimana memperhatikan dan mengurusi perasaan, emosi dan juga harga-diri pasangan.

hmmm.... "Tak ada yg lebih membahagiakan drpd memiliki seseorang yg bersedia mendampingi di sisa perjalanan hidup kita. sepatutnya teruslah mencari dan belajar bagaimana mencintai, mencukupkan dan memenuhkan kebahagiaan bersama pasangan, sembari tak henti meminta petunjuk dan kerelaan Tuhan agar selamat meniti jalan-Nya".

Kamis, Desember 30, 2010

Akhir Tahun

Pagi ini sebelum berangkat ke tempat kerja, tiba-tiba tetangga sebelah rumah ribut lagi, suara teriakan suami dan istri sambil terdengar bunyi lemparan barang-barang pecah belah membuat beberapa anggota rumah lain tersentak gosip sana-sini.
Tak kenal usia pasangan suami istri yang sudah punya anak dan cucu ini sering sekali bertengkar. Belum lagi penjaga rumahku yang sebelumnya juga pernah mengalami pertengkaran rumah tangga karena keadaan ekonomi dan perselingkuhan. Dan saya merasa kalau masih ada lagi pertengkaran-pertengkaran masalah keluarga yang terselubung yang lebih dahsyat lagi namun tidak terekspos dan tidak tampak mata.
Dalam hati kecilku ini, aku sangatttttttttttttttttttt bersyukur karena aku mempunyai orang tua dan keluarga inti yang harmonis sekalipun ada ribut-ribut kecil itu wajar dan lumrah dalam rumah tangga. Aku adalah manusia yang sangat beruntung di dunia ini karena dikarunia orang tua yang baik hati dan sangattttttttttttttttt pengertian juga kuat beribadah yang mengajarkan kepadaku menerima segala kekurangan dan selalu rendah hati dan pasrah kepada yang Kuasa bila menghadapi semua dilema hidup.
Kita tidak pernah tahu kapan kebahagiaan datang dan duka itu ada. Kitapun tak bisa memprediksi kapan kita bisa tertawa dan tangisan akan datang menghampiri, namun itu semua mengajari kepada kita untuk melihat terus ke depan dan menjadikan masa lalu sebagai motivasi yang positif untuk melangkah maju dan jangan pernah mundur.
Oh Tuhan akankah rasa cinta, kasih dan sayang yang ada saat ini akan berubah drastis bila waktu terus berjalan sampai dengan puluhan tahun yang akan datang. Karena setiap perubahan emosi yang sejalan dengan waktu yang terus berputar menghantar kita ke pelabuhan kebahagian sejati ataukah hanya sesaat.
Ada pertemuan adapula perpisahan, kadang waktu begitu singkat ada juga waktu yang sangat lama untuk dilewati bersama. Setiap perjumpaan dengan orang-orang disekelilingku mengajarkan kepadaku untuk “berbuatlah baik kepada mereka di saat sekarang” karena kita tak pernah tahu kapan waktu akan memisahkan kita.
Renunganku di akhir tahun ini sekedar memberikanku pengharapan yang besar bahwa masih ada orang baik di dunia ini di tahun-tahun ke depannya.SEMOGA.

Rabu, Desember 22, 2010

cause everythings gonna be ok

IKHLAS DAN RENDAH HATI. DUA HAL TERBERAT YANG TIDAK SEMUA ORANG BISA MENGHADAPINYA, NAMUN BERBAHAGIALAH MEREKA BILA SUDAH MENGAMALKAN DALAM HIDUP INI.

TIDAK ADA KEKUATAN TERBESAR DALAM HIDUPKU BILA AKU TAK PUNYA KEYAKINAN UNTUK BERBESAR HATI KEPADA SESAMA MAKLUK HIDUP.

TIDAK ADA KEKUATAN LAIN SELAIN DOA DR ORANG-ORANG DISEKELILINGKU UNTUK KESELAMATAN JIWA DAN RAGAKU

KESELAMATAN HIDUP YANG SETIAP DETIK INGIN SELALU KUMILIKI.

HINGGA TAHUN KESEKIAN KALINYA AKU DIBERIKAN KESELAMATAN, AKU TAK BISA MENGUCAPKAN BANYAK KATA SELAIN “TERIMA KASIH”

BERHARAP DENGAN PENUH KEYAKINAN SETIAP LANGKAH HIDUP YANG KUJALANI AGAR TETAP MENJADI BERKAT UNTUK MEREKA YANG MEMBUTUHKANNYA.

ADA RASA JENUH, JUGA MUNCUL BATAS KESABARAN NAMUN HARUS BISA MELEWATI SEMUA INI KARENA BILA KITA KUAT MAKA KITA MENANG.

PERLUKAH KATA MAAF TERUCAP DI AKHIR TAHUN, JAWABANKU “TAK PERLU” KARENA APA YANG SUDAH KITA PERBUAT ADALAH SADAR, JIKA SADAR MAKA TAK PERLU PENYESALAN, YANG HARUS DILAKUKAN ADALAH MENYIKAPI SEMUANYA DENGAN IKHLAS.. LAGI-LAGI IKHLAS...

2011 AKANKAH SEINDAH 2010, DENGAN BANYAK MUJIZAT YANG SELALU KUDAPATKAN DAN BERHARAP MUJIZAT-MUJIZAT LAIN JUGA TERUS MENGHAMPIRIKU. AMIEN.

"MET NATAL 2010 DAN TAHUN BARU 2011”