Selasa, Mei 13, 2014

TAMAN DOA OEBELO KABUPATEN KUPANG



Panas membara tak mematahkan semangat untuk  berziarah ke Taman Doa Oebelo, banyak pengunjung dan peziarah yang datang untuk beribadah sekaligus datang hanya untuk refreshing dan berfoto selfi, namun itulah indahnya puncak Taman Doa Oebelo-Kabupaten Kupang-NTT, dengan nuansa alam yang sejuk dan natural, di tempat inilah semua kalangan bisa menikmati  suasana santai namun tetap ada unsur hikmat religius. 

Tampak dari anak-anak, orang tua,muda-mudi sampai masyarakat sekitar Kupang dan dari luar Kota/Kabupaten Kupang  yang datang berkunjung ke tempat ini.





Bila anda sedang bertugas ke Kupang jangan lupa untuk mengunjungi Taman Doa Oebelo dengan waktu tempuh kurang lebih 20 menit dari bandara Eltari atau dari Hotel Timore Penfui.Hmmm, kalau datang di saat musim panas sekitar bulan April sd Oktober , Kabupaten Kupang Taman Doa Oebelo  akan terasa panas sekali, sehingga bagi para peziarah dianjurkan untuk membawa jaket/payung serta menggunakan sepatu / sandal yang rata ya, karena kita harus mendaki ke puncak tertinggi Taman Doa Oebelo. 


Rasa lelah dan cape, pegel karena mendaki ke atas puncak menuju Kapela Sint John Paul II Taman Doa Oebelo akan terbayar sempurna karena dari atas puncak Kapela kita bisa menikmati indahnya panorama alam sekitar desa Oebelo Kabupaten Kupang yang masih sangat tradisional namun terasa sejuk dengan angin yang sepoi-sepoi .



Saya sendiri meskipun sering ke taman Doa hanya sekedar mengantar sanak saudara yang berlibur dan ingin berziarah sepertinya tak bosan-bosan untuk selalu ke tempat ini karena merasa sangat damai, tentram entah mengapa serasa ada sesuatu yang berbeda yang membuat kita begitu mengagumi indahnya alam ciptaan Sang Penguasa Bumi ini, paling tidak bagi yang ingin merefleksikan diri, Taman Doa Oebelo bisa menjadi alternative pilihan anda.









Sekedar info Taman Doa Oebelo ini bisa dibangun karena partisipasi dan sumbangan dari segala umat dan itu semua membuktikan bahwa tak ada rencana yang bisa terealisasi tanpa doa dan dukungan semua pihak.  

Jadi Taman Doa Oebelo adalah milik kita bersama sehingga layak dan pantas kita untuk mempromosikan, menjaga, merawat, melestarikan dan mendoakan agar tetap terpelihara dengan bersih dan indah jadi  bisa difungsikan untuk semua umat saat ini maupun di masa yang akan datang. Selamat berkunjung semoga terkesan by Tere Libriani.




Kamis, Februari 27, 2014

RAGA BARU JIWA BARU

Selamat bertemu di Awal bulan Maret 2014, akhirnya kangen juga dengan coretan onlineku kali ini. Sudah lama tak bersuo, salam sejahtera dan berkat berlimpah di tahun 2013 sampai dengan awal tahun 2014.

Semua terasa indah meski disetai dengan usaha, kerja keras dan air mata yang selalu menghampiri silih berganti.

Ramalan 2014, banyak gejolak di tahun Kuda Kayu ini bagi kaum shio ayam , namun entahlah kalau Shio Ayam yang bersodiak Libra sepertiku. Karena tentunya tahun 2014 ini tahun Galau buat diriku yang terlalu banyak impian yang super duper terlalu sangat tinggi dan meyakinkan untuk prospek selanjutmya.


Ibarat kata Mario Teguh : "Mereka yang Galau dan Insomnia dikarenakan banyak Impian yang telampau tinggi" tapi ..... ada tapinya harus disertai dengan kerja keras, usaha, keyakinan, doa dan dukungan dari orang-orang yang tepat, salah dukungan dari pihak yang salah bisa-bisa Galau jadi Gila dan bukan untung namun rugi. Jadi tantangannya adalah Memanage keuangan, memanage teman pergaulan dan lingkungan, serta mengontrol keinginan duniawi. Kalau mampu maka LANJUTKAN IMPIANMU.

Kehidupan manusia jaman modern saat ini, ada teman-teman yang menghalalkan segala cara untuk memenuhi nafsu DUNIAWInya sehingga mereka merasa MODERN, GAUL, DAN BERBEDA. Maaf kita BERBEDA. Duniamu adalah duniamu, Duniaku tetap duniaku, kita tetap berteman namun kita berbeda prinsip. Terkadang kita harus menggunakan banyak akal budi dan hati nurani untuk mewujudkan semua impian di masa depan, karena apa yang terjadi masa sekarang akan kita tuai dan berakibat untuk masa yang akan datang datang. Aku manusia punya akal budi dan hati nurani, bukan hewan yang hanya punya akal saja. Aku mau sengsara membawa nikmat ,bukan kesenangan saat ini yang membawa mala petaka di saat yang akan datang. Sesuatu yang diawali dengan niat baik dan ketulusan akan berakhir baik dan awet namun sebaliknya....

Itulah prinsip hidupku baik dalam hal pekerjaan, kehidupan pribadi, pergaulan, usaha, impian, bila awal baik, tulus dan ikhlas akan berumur panjang. Bila tidak, segera say God bye jangan sampai jadi benalu bagi IMPIAN-mu.

Renungan perjalanan hidup 2013 membawa alur tersendiri bagi kematangan spritualku, itulah hidup, misteri hidup yang terkadang ada Kesengajaan" yang terjadi namun harus tetap bertahan dan kuat karena Siapa yang Kuat dialah yang menang.

Aku SELALU TETAP INGIN JADI PEMENANG bukan pecandu. :D
BRAVO...... KO BETA NA
SALAM SUKSES 2014. AMIN.




Selasa, Agustus 20, 2013

Jangan Peduli Apa Kata Orang

Seberapa sering kita memikirkan apa yang orang lain pikir tentang kita? Kalau mau jujur, pasti banyak yang mengacungkan jari dan mengangguk bilang iya. Jadi, tenang aja, Anda nggak sendiri. Pertanyaannya berikutnya adalah, seberapa besar hal tersebut memengaruhi hidup kita?

Menurut saya, memang ada hal dalam hidup yang harus sesuai dengan norma, peraturan dan kebiasaan yang berlaku sehingga kita MEMANG HARUS peduli tentang apa yang orang lain pikirkan tentang kita. Nggak mungkin juga, kan, kita tertawa keras-keras pada saat sedang melayat orang meninggal? Di sini mau nggak mau kita harus peduli dengan situasi yang sedang kita hadapi.

Tapi untuk hal-hal lain, kita sering banget mencari persetujuan dari orang lain untuk tiap hal yang kita lakukan—karena kita sangat peduli dengan apa yang orang lain pikirkan tentang kita. Padahal menurut saya, salah satu penyesalan terbesar sebagai manusia bukan ketika kita membuat suatu keputusan yang salah, namun pada saat kita membiarkan orang lain mengambil keputusan untuk kita. Dan kalau kita mengandalkan persetujuan orang lain untuk hal yang kita lakukan, kita nggak akan pernah menemukan kepuasan terhadap diri sendiri.

Paling gampang coba lihat sosial media. Berapa banyak dari kita yang (diam-diam) sangat bahagia ketika mendapatkan banyak ‘like’ di Facebook atau tweet kita di-RT oleh banyak orang?  Itu contoh paling sederhana bahwa kita memang senang ketika banyak orang yang setuju dengan sesuatu yang kita lakukan/katakan.

Tapi bisa membayangkan nggak sih, kalau ini terjadi dalam tataran yang lebih tinggi? Misalnya, kita mendefinisikan sukses atau bahagia dengan standar yang ditetapkan oleh orang lain. Orang lain berkata bahwa bahagia adalah ketika punya uang banyak dan jabatan yang tinggi—lalu kita mendefinisikan bahagia persis seperti itu. Padahal bisa saja, kalau kita mau jujur kepada diri sendiri, selalu sehat dan diberikan rezeki yang cukup saja sudah bisa membuat kita bahagia. Namun karena kita sangat terpengaruh terhadap apa yang orang lain pikirkan, maka kita menjalani hidup dengan standar mereka, bukannya dengan standar kita sendiri.

Tentunya hal kayak gini lebih gampang diomongin daripada dilakukan. Ya, kan? Oleh karena itu, menurut saya ada beberapa hal yang bisa kita jadikan pertimbangan kenapa terlalu peduli tentang apa kata orang nggak selamanya berdampak positif dalam hidup kita.


1. Kita nggak bisa menyenangkan semua orang
Saya sudah menulis beberapa buku. Tiap kali melihat komentar yang diberikan para pembaca, perasaan saya campur aduk. Senang ketika ada yang bilang bagus, sedih ketika ada yang bilang terlalu cheesy dan standar atau bahkan jelek. Awalnya sih saya tertekan, tapi akhirnya saya berdamai dengan diri sendiri, dengan prinsip bahwa nggak mungkin semua orang menyukai buku saya. Pasti akan ada yang menjadi ‘haters’, entah mungkin standarnya memang sangat tinggi atau memang, sederhananya, buku saya bukan selera dia.

2. Berhenti untuk berpikir berlebihan...
....karena kita nggak bisa mengendalikan apa yang orang lain pikirkan tentang kita. Percayalah, kita ini bukan orang paling penting di dunia. Jadi ketika kita berpikir, ‘Aduh, si X mikir apa ya tentang gue?’ kemungkinan besar, sih, si X NGGAK SEDANG BERPIKIR apapun tentang kita. Dan kalaupun iya, biarin saja, deh. Di dunia ini terlalu banyak pendapat yang berbeda dan kita semua pasti setuju bahwa nggak akan pernah ada kesepakatan universal untuk setiap hal.

3. Bikin capek dan menguras energi
Setiap kali kita khawatir terhadap bagaimana orang menilai diri kita, maka kita menghabiskan energi sia-sia, yang sebenarnya bisa dihabiskan untuk hal lain yang lebih berguna. Eh, jangan salah. Mikir—apalagi penuh dengan kekhawatiran dan pikiran negatif—butuh banyak energi lho. Belum lagi waktu yang terbuang percuma.

4.  Jadilah seseorang yang kita inginkan dan percaya diri menjalaninya
Kalau kita nggak yakin dengan diri sendiri, maka orang lain biasanya akan bisa melihat ketidakpercayaan diri kita. Mereka akan menilai dan (lebih parahnya) menyerang kita untuk membuat mereka merasa lebih baik dibanding kita. Jadi kalau kita nyaman dengan diri kita sendiri, kecenderungannya orang juga akan melihatnya sebagai sesuatu yang positif.

5. Terima diri kita apa adanya...
...karena satu-satunya persetujuan yang kita butuhkan adalah persetujuan dari diri sendiri. Ketika ini terjadi, mungkin kita akan menyadari bahwa hal-hal yang menjadi kekhawatiran kita sebenarnya nggak penting-penting amat dan nggak pada tempatnya kita mencari persetujuan orang lain untuk setiap detail hidup yang kita jalani.

Hidup hanya sekali, apakah kita akan membiarkan pikiran orang lain membuat hidup kita menjadi nggak nyaman? Kalau buat saya sih, itu terdengar menyedihkan.

(Oleh