Jumat, Agustus 27, 2010

Nabi Muslim Lahir di Bethlehem*

http://rusdimathari.wordpress.com/2008/01/23/nabi-muslim-lahir-di-bethlehem/

Kisah tentang Yesus menempati posisi yang istimewa di awal Islam. Tidak ada kebutuhan untuk “benturan peradaban” (clash of civilization).

Oleh Karen Amstrong*

PADA 632 M, setelah lima tahun peperangan yang hebat, Kota Mekkah di Hijaz, Semenanjung Arabia, secara sukarela membuka gerbang untuk pasukan Muslim. Tidak ada darah ditumpahkan dan tidak ada orang yang dipaksa untuk menjadi Muslim, tetapi Nabi Muhammad saw memerintahkan penghancuran seluruh berhala dan patung Ketuhanan. Terdapat sejumlah lukisan dinding pada dinding-dinding bagian dalam Ka’bah, tempat suci kuno di tengah Mekkah, dan salah satunya, konon diriwayatkan, menggambarkan Maria dan bayi Yesus. Segera, Muhammad saw menutupinya dengan jubahnya dengan penuh hormat, memerintahkan agar semua lukisan yang lain dihilangkan kecuali yang satu itu.
Kisah ini boleh jadi akan mengejutkan orang-orang di Barat, yang kadung memandang Islam sebagai musuh yang tidak dapat didamaikan dengan Kristen sejak Perang Salib. Namun, adalah sangat konstruktif untuk mengingat kisah tersebut, terutama selama Natal, ketika kita dikepung oleh gambar-gambar yang serupa tentang Sang Perawan dan Anak Sucinya. Kisah itu mengingatkan kita bahwa apa yang disebut “benturan peradaban” sama sekali bukan tidak bisa dielakkan. Selama berabad-abad, Muslim mencintai figur Yesus yang dihormati di dalam al-Quran sebagai salah satu nabi terbesar dan, di dalam tahun-tahun perkembangan Islam, menjadi salah satu bagian utama dari identitas Muslim.
Terdapat pelajaran penting di sini, baik bagi orang Kristen maupun Muslim—terutama barangkali pada saat-saat Natal seperti ini. Al Quran tidak meyakini Yesus sebagai tuhan tetapi ia mempersembahkan lebih banyak ruang bagi kisah tentang konsepsi dan kelahiran sucinya dibandingkan apa yang dikisahkan Perjanjian Baru. Al Quran menyajikannya dengan kekayaan simbolis mengenai kelahiran Roh Kudus di dalam setiap manusia (QS. 19:17-29; 21:91). Seperti para nabi agung lainnya, Maria menerima Roh Kudus dan mengandung Yesus, yang pada gilirannya akan menjadi sebuah bukti (ayat): sebuah pesan perdamaian, kelembutan, dan kasih sayang kepada dunia.
Al Quran dikejutkan oleh klaim-klaim Kristen bahwa Yesus adalah “putra Allah”, dan kemudian dengan bersemangat melukiskan Yesus demi menyangkal ketuhanannya dalam upaya “membersihkan” dirinya dari proyeksi-proyeksi yang tidak layak tersebut. Berkali-kali, al-Quran menekankan bahwa, seperti juga Muhammad sendiri, Yesus adalah seorang manusia biasa yang sempurna dan bahwa orang Kristen sama sekali telah salah dalam memahami teks-teks suci mereka sendiri. Namun, al Quran juga mengakui bahwa orang-orang Kristen yang paling setia dan terpelajar—terutama adalah para pendeta dan imam—tidak meyakini ketuhanan Yesus; dari semua hamba Tuhan, merekalah yang paling dekat dengan Muslim (QS. 5:85-86).
Harus dikatakan bahwa beberapa orang Kristen mempunyai pemahaman yang sangat sederhana dari apa yang dimaksud dengan penjelmaan. Ketika para penulis Perjanjian Baru, Paulus, Matius, Markus, dan Lukas menyebut Yesus sebagai “Anak Allah”, mereka tidak memaksudkan bahwa Yesus adalah Tuhan. Mereka menggunakan istilah itu dalam makna Ibraninya: di dalam Alkitab Ibrani, sebutan tersebut biasa dianugerahkan kepada manusia biasa yang fana, seperti seorang raja, imam, atau nabi—yang telah diberi tugas khusus oleh Allah dan menikmati keakraban yang tidak biasa dengan-Nya. Di seluruh Injilnya, Lukas justru selaras dengan al Quran, sebab ia secara konsisten menyebut Yesus sebagai seorang nabi. Bahkan Yohanes, yang memandang Yesus sebagai penjelmaan Firman Allah, membuat suatu pembedaan, sekalipun hanya dalam satu ungkapan yang sangat bagus, antara “Firman” dengan Allah Sendiri—seperti halnya kata-kata kita yang terpisah dari esensi keberadaan kita.
Al Quran menekankan bahwa semua agama yang benar dan terbimbing berasal dari Allah, dan Muslim diwajibkan untuk mengimani wahyu-wahyu dari setiap kata para utusan Allah: Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa, dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nyalah kami menyerahkan diri” (QS. 3:84). Dan, Yesus—yang juga disebut Mesiah—Sang Firman dan Roh Kudus—mempunyai status khusus.
Yesus, bagi al Quran, mempunyai hubungan yang dekat dengan Muhammad, dan telah meramalkan kedatangannya (QS. 61:6), sama seperti para nabi Ibrani yang dipercaya oleh orang Kristen sebagai telah menubuatkan kedatangan Kristus. Al Quran menolak bahwa Yesus telah disalibkan dan memandang kenaikannya ke surga sebagai pernyataan keberhasilan dari misi kenabiannya. Dengan cara yang serupa, Muhammad suatu ketika secara mistik naik ke Singgasana Tuhan. Di samping Muhammad, Yesus juga akan memainkan suatu peran yang sentral dalam drama eskatologis pada hari akhir.
Selama tiga abad pertama dari Islam, Muslim telah menjalin hubungan yang dekat dengan orang Kristen di Irak, Syiria, Palestina, dan Mesir, dan mulai mengoleksi ratusan riwayat dan perkataan yang berhubungan dengan Yesus; suatu koleksi yang tidak ada bandingannya di dalam agama non-Kristen manapun. Sebagian ajaran tersebut dengan jelas berasal dari Injil—terutama Khotbah di atas Bukit yang sangat populer tetapi ditampilkan dengan gaya Muslim. Yesus digambarkan melakukan ritual haji, membaca al-Quran, dan melakukan sujud dalam doanya.
Dalam riwayat-riwayat yang lain, Yesus mengartikulasikan secara terperinci apa yang menjadi perhatian Muslim. Dia telah menjadi salah satu teladan agung bagi para sufi Muslim, yang mengajarkan hidup sederhana, kerendahan hati, dan kesabaran. Kadang-kadang Yesus memihak satu kelompok dalam sebuah perselisihan teologis atau politis: membariskan dirinya bersama mereka yang mendukung kehendak bebas di dalam perdebatan mengenai takdir; memuji Muslim yang berdamai dengan prinsip politiknya (“Ketika para raja memberikan kebijaksanaan kepada kalian, maka sebaiknya kalian tinggalkan dunia untuk mereka”); atau mengecam para ulama yang melacurkan ajarannya demi keuntungan politis (“Janganlah kamu hidup dari Kitab Tuhan”) [1].
Yesus telah diinternalisasi oleh Muslim sebagai teladan dan inspirasi dalam pencarian spiritual mereka. Muslim Syiah merasa bahwa ada suatu koneksi kuat antara Yesus dengan imam-imam mereka yang menerima ilham, memiliki kelahiran-kelahiran yang ajaib, dan mewarisi pengetahuan propetik dari ibu-ibu mereka. Para Sufi terutama mengabdikan diri mereka kepada Yesus dan menyebutnya sebagai “nabi cinta”. Mistikus ternama Abad ke-12 M, Ibn al-Arabi, menyebut Yesus sebagai “penutup orang-orang kudus”—secara sengaja disandingkan dengan Muhammad sebagai “penutup para nabi”.
Cinta Muslim kepada Yesus adalah contoh yang luar biasa dari cara bagaimana sebuah tradisi dapat diperkaya oleh tradisi yang lain. Ini tidak berarti bahwa orang-orang Kristen harus membayar pujian tersebut. Sementara Muslim mengoleksi riwayat-riwayat mereka mengenai Yesus, sarjana-sarjana Kristen di Eropa justru menghujat Muhammad sebagai seorang pemuja seks dan penipu ulung, yang sangat menyukai kekerasan. Namun, pada hari ini, baik Muslim maupun orang Kristen sama bersalahnya atas sikap fanatik semacam itu dan seringkali juga lebih suka untuk melihat hanya bagian terburuk dari satu sama lain.
Cinta Muslim kepada Yesus menunjukkan bahwa hal itu tidak harus selalu menjadi situasinya. Pada masa lalu, sebelum terjadinya kekacauan politik dari modernitas, Islam selalu mampu melakukan koreksi diri. Tahun ini, pada hari kelahiran Jesus, mereka mungkin dapat bertanya kepada diri mereka sendiri bagaimana mereka dapat menghidupkan kembali tradisi panjang mereka berkaitan dengan pluralisme dan penghargaan kepada agama-agama yang lain. Ketika merenungi empati Muslim terhadap iman mereka, orang-orang Kristen sebaiknya melihat kembali masa lampau mereka sendiri dan mempertimbangkan apa yang mungkin dapat mereka lakukan untuk membalas rasa hormat ini.
* Artikel ini dikutip oleh www.icc-jakarta.com dari harian Inggris the Guardian, 23 Desember 2006.

*Karen Armstrong adalah penulis buku Muhammad: a Prophet for Our Time.
[1] Dua riwayat tersebut dan riwayat-riwayat yang bermakna serupa dapat ditemukan dalam Tarif Khalidi, The Muslim Jesus: Sayings and Stories in Islamic Literature, Harvard University Press, Cambridge, 2001.

Senin, Agustus 23, 2010

Bondan Prakoso feat. Fade 2 Black – Ya Sudahlah

ketika mimpimu yg begitu indah

tak pernah terwujud ya sudahlah

saat kau berlari mengejar anganmu

dan tak pernah sampai ya sudahlah

* apapun yg terjadi ku kan selalu ada untukmu

janganlah kau bersedih ’cos everything’s gonna be okay

yo satu dari sekian kemungkinan

kau jatuh tanpa ada harapan

saat itu raga kupersembahkan

bersama jiwa cita cinta dan harapan

kita sambung satu persatu sebab akibat

tapi tenanglah mata hati kita kan lihat

menuntun ke arah mata angin bahagia

kau dan aku tahu jalan selalu ada

juga ku tahu lagi problema kan terus menerjang

bagai deras ombak yang menabrak karang

namun ku tahu ku tahu kau mampu tuk tetap tenang

hadapi ini bersamaku hingga ajal datang

sempat kau berharap keramahan cinta

tak pernah kau dapat ya sudahlah

yeeah dengar ku bernyanyi lalalalalala

heyyeye yaya dedudedadedudedudidam

semua ini belum berakhir

repeat *

satukan langkah langkah yg beriring

genggam hati rangkul emosi

Genggamlah hatiku

satukan langkah kita

sama rasa tanpa pamrih

ini cinta across the sea

peluklah diriku terbanglah bersamaku 

melayang jauh (come fly with me, baby)

ini aku dari ujung rambut menyusur jemari

sosok ini yang menerima kelemahan hati

yeah aku cinta kau (ini cinta kita)

cukup satu waktu yes (untuk satu cinta)

satu cinta ini akan tuntun jalanku

rapatkan jiwamu yo tenang di sisiku

rebahkan rasamu untuk yg ditunggu

bahagia hingga ujung waktu

repeat * [3x]


Lirik lagu Bondan Prakoso feat. Fade 2 Black – Ya Sudahlah ini dipersembahkan oleh LirikLaguIndonesia.Net. Kunjungi DownloadLaguIndonesia.Net untuk download MP3 terbaru.

Sabtu, Agustus 21, 2010

Popularitas Lewat Dunia Maya by Tedy Achmad

TERSEDIANYA teknologi semakin memudahkan orang melakukan sesuatu.Tak terkecuali bagi mereka yang ingin dikenal atau promosi diri.Salah satunya melalui situs jejaring sosial yang mudah dan gratis.

Nama Justin Beiber, tiba-tiba sangat populer. Penyanyi remaja yang kini digandrungi di dunia ini, populer pertama kali lewat dunia maya. Dengan kemampuan dan karya yang dimiliki,Justin sengaja memasukannya lewat situs jejaring sosial YouTube.Alhasil,hampir 120 juta orang mengunduhnya dan dia pun melejit sebagai penyanyi pop terkenal.

Langkah Justin juga dilakukan pemain gitar asal Malaysia, Zee Avi.Tentu dia berharap orang melihat kemampuannya dalam bermain gitar. Dengan mengunggahnya di YouTube, harapannya pun terjadi,yakni menjadi populer. Indonesia pun tak kalah hebat, melahirkan selebriti dadakan lewat dunia maya ini.Yang terbaru adalah hebohnya video rekaman lip sync dua gadis asal Bandung yang menyanyikan lagu Keong Racun, Sinta dan Jojo. Siapa sangka nama mereka langsung melejit setelah aksi mereka direkam dan dimasukkan dalam situs jejaring sosial,YouTube.

Aksi iseng yang dilakukan Sinta dan Jojo ini, akhirnya membuat dua perempuan cantik asal Bandung ini dinobatkan sebagai seleb internet dadakan dengan tembang Keong Racun. Perkembangan teknologi yang semakin canggih, membuat orang semakin dimanjakan untuk melakukan segala sesuatu yang diinginkan. Sinta dan Jojo, Justin Beber, atau Zee Avi ini hanya sebagian kecil dari masyarakat dunia yang memublikasikan diri melalui internet dan menjadi terkenal.

Banyak orang yang mencoba peruntungan mereka melalui dunia maya.Mereka berlomba-lomba memperkenalkan karya terbaiknya. Bahkan,musisi terkenal menjadikan dunia maya sebagai jaringan komunikasi dengan masyarakat internasional. Nama band Sore, Sandhy Sondoro, Superman Is Dead bisa terkenal di Asia dan beberapa negara Eropa lantaran mereka berkomunikasi dengan masyarakat mancanegara lewat dunia maya.

Musisi Zee Avi tidakterlaludikenaldinegaranya, tapi dia sangat serius memperkenalkan cara permainan gitarnya yang menarik. Hasilnya, aksi Zee ini dilirik produser terkenal asal Amerika,Jack Johnson, dan dia sudah mulai terkenal di Amerika. Demikian juga dengan Justin Bieber, yang meraih popularitasnya dengan cepat. Dia mendadak menjadi penyanyi terkenal dan dipuja- puja para penggemarnya yang rata-rata remaja. Remaja kelahiran Stratford, Ontario, Kanada, 1 Maret 1994 ini menjadi sangat terkenal, setelah sebelumnya memosting video penampilannya dalam situs video sharing, YouTube.

Justin pun telah mengumpulkan banyak penggemar wanitanya di industri musik dalam waktu yang singkat. Pengamat musik Denny Sakrie menilai bahwa dunia maya memang menjadi media yang sangat menguntungkan bagi orang-orang yang memaksimalkan jasa yang telah disediakan, seperti YouTube atau situs jejaring sosial lainnya.

Menurut Denny, di dunia maya terdapat sebuah pasar.Artinya, segala macam kebutuhan dan keinginan seseorang dapat terpenuhi di dalamnya. Jika seseorang menjual sebuah daya tarik melalui karya dan keunikannya dan ada orang lain yang tertarik, namanya akan sangat mudah dikenal. Pasalnya, banyak produser atau pencari bakat dari berbagai belahan dunia turut berkecimpung di dalamnya. “Dulu seorang produser mencari bibit ketika dia keliling dunia dan itu membutuhkan dana yang sangat besar.Tapi sekarang, ini lebih efektif dan dengan biaya yang sangat murah, para produser atau pencari bakat lainnya menemukan orang yang diinginkan,”kata Denny.

Namun, tidak semua orang yang menggunakan dunia maya ini akan meraih sukses besar. Hanya mereka yang memiliki nilai lebih dari kebanyakan orang ini yang akan mendapatkan keberuntungan dan mendapatkan popularitas. “Seperti Sinta dan Jojo itu mereka terkenal, tapi itu tidak bertahan lama. Itu sesuatu yang sangat biasa, bukan sebuah prestasi yang bisa berjalan panjang.Lain halnya dengan Zee Avi.

Dia punya suara yang sangat indah dan permainan gitar yang memukai, dan ternyata dilirik produser terkenal di dunia,” sebut Denny. Promosi Efektif Heboh Keong Racun,salah satunya juga karena keberuntungan. Lagu yang dinyanyikan pertama kali oleh Lisa dan kemudian dibawakan secara lip sync (menggerakkan bibir sesuai lirik dan seakanakan sedang bernyanyi) oleh Jovita Adityasari alias Jojo dan Sinta ini memang tidak sengaja. Mereka melakukan itu hanya iseng dan hiburan semata, terutama untuk membagi pada teman-teman dan sahabat mereka saja.

“Awalnya sih hanya iseng.Saya dengan Sinta kan sudah berteman sejak SMA.Kemudian sekitar satu bulan lalu, saya iseng merekam adegan nyanyi berdua dengan Sinta di rumah saya di Cimahi. Suaranya sih suara penyanyi aslinya. Kita hanya lip sync,” kata Jojo saat ditemui sejumlah wartawan beberapa waktu lalu. Pemilihan lagunya pun tidak sengaja. Itu semua atas rekomendasi teman-temannya juga. Jojo sebelumnya memang belum pernah mendengar lagu Keong Racun. Liriknya yang aneh dan kocak itu yang membuatnya tertarik lip sync dan mengunggahnya lewat situs YouTube.Selang tiga hari,video itu menghiasi sebuah forum internet dan membuat heboh. Bahkan, vokalis ST12 Charlie terang-terangan tertarik untuk mengajak kerja sama dengan dua perempuan cantik yang dinobatkan sebagai seleb internet dadakan ini.

Charlie van Houten menggaet Sinta dan Jojo untuk menjadi model video klip dalam lagu Keong Racun yang diaransemen ulang Charlie. “Aku suka sama Sinta dan Jojo. Mereka itu ekspresif dan tentunya bakat ini nggak boleh dipendam. Meski mereka cuma lip sync, sekarang mereka punya nama,” kata Charlie. Pemakaian dunia maya diakui Charlie merupakan sarana promosi efektif.Selain mudah dan murah, jangkauannya cukup luas tak terbatas wilayah.“Bayangkan saja kalau kita harus melakukan promosi manual. Untuk menggaet jutaan orang dalam satu menit,hanya bisa dilakukan lewat dunia maya ini,” tutur Charlie. (tedy achmad)